Pep Guardiola kembali menjadi sorotan setelah berbicara soal pengeluaran transfer Manchester City dan Newcastle United. Ia menyebut fakta soal “net spend” atau selisih antara total uang yang dikeluarkan klub untuk membeli pemain dengan total uang yang didapat dari menjual pemain dalam satu periode transfer, yang selama ini dianggap tidak adil. Namun, di balik pernyataannya itu, tersimpan satu hal penting yang jarang dibahas dan justru menentukan masa depan Newcastle.
Pernyataan Pep memang terdengar masuk akal di atas kertas. Data menunjukkan bahwa City bukanlah klub dengan pengeluaran bersih terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Tapi jika ditelusuri lebih dalam, situasinya tidak sesederhana itu.
Ketika Pep Membela City dari Tuduhan Boros
Pep Guardiola dikenal sebagai salah satu pelatih terbaik dunia. Pemahamannya tentang sepak bola hampir tak pernah diragukan. Namun kali ini, komentarnya soal belanja pemain memicu perdebatan.
Pelatih asal Spanyol itu menanggapi tudingan bahwa City kembali “membeli jalan keluar” dari masalah lewat belanja pemain di bursa transfer Januari. City merekrut Antonie Semenyo dan Marc Guehi, di saat klub-klub lain relatif pasif.
Sebelumnya, pada bursa musim panas, City juga mengeluarkan dana besar untuk mendatangkan Rayan Cherki, Tijjani Reijnders, Rayan Ait-Nouri, Gianluigi Donnarumma, dan James Trafford.
Pep pun membela diri dengan data.
Dalam lima tahun terakhir, City hanya berada di posisi ketujuh dalam daftar pengeluaran bersih Premier League. Artinya, uang yang mereka keluarkan sudah dikurangi dari hasil penjualan pemain. Di atas mereka masih ada Liverpool, Arsenal, dan Newcastle.
Dengan nada bercanda, Pep mengatakan bahwa ia “sedih” karena City tidak berada di peringkat pertama dalam urusan belanja bersih.
Menurutnya, fakta menunjukkan bahwa beberapa klub lain justru lebih banyak menghabiskan uang dalam lima tahun terakhir. Ia menegaskan bahwa itu bukan opini, melainkan data.
Fakta Angka yang Benar, Tapi Konteksnya Berbeda
Secara angka, Pep tidak salah. City memang pintar menjual pemain. Banyak nama yang dilepas dengan harga tinggi, sehingga neraca keuangan tetap seimbang.
Liverpool dan Chelsea juga melakukan hal serupa.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah: dari mana para pemain mahal itu berasal?
City sudah membangun fondasi kuat sejak bertahun-tahun lalu, jauh sebelum aturan keuangan ketat seperti PSR dan FFP diterapkan secara serius. Mereka sempat bebas berinvestasi besar untuk membangun skuad, akademi, dan sumber pendapatan.
Akibatnya, sekarang mereka memiliki banyak aset bernilai tinggi yang bisa dijual kapan saja.
Newcastle berada di posisi yang sangat berbeda.
Newcastle Terjepit Aturan Sejak Awal
Ketika pemilik baru datang, Newcastle mewarisi skuad yang kualitasnya masih terbatas. Tidak banyak pemain bintang yang bisa dilepas dengan harga mahal.
Sejak awal, mereka sudah harus menghadapi aturan Profit and Sustainability Rules (PSR) dan Financial Fair Play (FFP). Setiap langkah harus dihitung dengan sangat hati-hati.
Berbeda dengan City yang sudah mapan, Newcastle tidak punya “tabungan” pemain mahal dari masa lalu.
Satu-satunya penjualan besar yang menonjol adalah Alexander Isak. Namun kepergiannya justru meninggalkan lubang besar di lini depan.
Pada musim panas, Newcastle menghabiskan sekitar £124 juta untuk Nick Woltemade dan Yoane Wissa. Jika dikonversi, jumlah itu setara dengan kurang lebih Rp2,4 triliun. Meski besar, dana tersebut belum cukup untuk menutup semua kebutuhan tim.
Mengisi kekosongan yang ditinggalkan Isak di akhir bursa transfer terbukti sangat sulit.
Perbedaan Realitas Antar Klub
Inilah bagian yang sering luput dari perdebatan soal uang.
City dan Liverpool bisa memperbaiki kelemahan tim dengan relatif mudah. Jika satu posisi bermasalah, mereka tinggal membeli pemain baru dengan dana besar.
Newcastle tidak punya kemewahan itu.
Mereka harus berjalan di atas “tali keuangan” yang sangat tipis. Salah langkah sedikit saja, sanksi bisa datang.
Contohnya, Newcastle sangat berharap Lewis Hall tetap fit hingga akhir musim. Jika cedera, mereka tidak punya banyak alternatif.
Sementara itu, Liverpool bisa mengeluarkan sekitar £60 juta, atau sekitar Rp1,1 triliun, untuk Jeremy Jacquet, lalu langsung meminjamkannya kembali ke Rennes.
Perbedaan fleksibilitas ini sangat terasa.
Manchester United juga mengalami situasi serupa dengan Newcastle. Dalam empat dari lima bursa transfer terakhir, mereka harus menahan diri. Meski sempat belanja besar, posisi mereka masih jauh dari stabil.
Sulit Menjual, Sulit Berkembang
Pep memang benar ketika mengatakan bahwa klub harus pandai menjual pemain. Newcastle pun menyadari hal itu.
Masalahnya, pilihan mereka sangat terbatas.
Tidak banyak pemain dalam skuad yang memiliki nilai jual tinggi di pasar. Untuk membangun aset semacam itu, dibutuhkan waktu, stabilitas, dan ruang finansial—hal yang belum sepenuhnya dimiliki Newcastle.
Ini bukan keluhan, melainkan realitas.
Jika Pep menyukai fakta dan angka, maka satu fakta ini juga tidak boleh diabaikan: tidak semua klub memulai dari garis start yang sama.
Kesimpulan: Benar di Atas Kertas, Belum Tentu di Lapangan
Pep Guardiola tidak keliru soal perhitungan net spend. Data memang mendukung ucapannya.
Namun, angka-angka itu tidak menceritakan keseluruhan kisah.
City sudah menikmati hasil dari investasi besar di masa lalu. Newcastle masih berjuang membangun fondasi di tengah aturan ketat.
Dalam jangka pendek, Pep mungkin menang dalam urusan statistik. Tetapi dalam gambaran besar, Newcastle sedang memainkan permainan yang jauh lebih sulit.
Dan itulah fakta lain yang seharusnya ikut diperhitungkan.