Derby della Madonnina pada 9 Maret menghadirkan drama besar ketika AC Milan berhasil menaklukkan Inter Milan dengan skor tipis 1-0. Gol kemenangan Rossoneri dicetak oleh Pervis Estupiñán dan membuat tim asuhan Massimiliano Allegri memangkas selisih poin dengan rival sekotanya menjadi tujuh angka di klasemen Liga Italia.
Namun setelah peluit panjang berbunyi, pembahasan justru tidak lagi berfokus pada gol kemenangan Milan. Sorotan utama beralih pada sebuah insiden kontroversial di menit-menit akhir pertandingan yang melibatkan gelandang Milan, Samuele Ricci, terkait dugaan handball di dalam kotak penalti.
Insiden Menit ke-95 yang Memicu Perdebatan
Momen yang menjadi bahan perdebatan terjadi saat pertandingan memasuki masa tambahan waktu. Bek Inter, Denzel Dumfries, menyundul bola ke arah kotak penalti Milan.
Bola tersebut kemudian mengenai lengan Samuele Ricci yang posisinya terlihat sedikit menjauh dari tubuh. Situasi itu langsung memicu protes dari para pemain Inter yang menilai seharusnya wasit memberikan penalti.
Namun wasit Daniele Doveri tidak menunjuk titik putih. Sistem VAR pun tidak melakukan intervensi, sehingga permainan tetap dilanjutkan hingga peluit akhir. Keputusan ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak, mulai dari pemain, pengamat hingga para penggemar sepak bola.
Pendapat Berbeda dari Para Pengamat
Peristiwa tersebut memunculkan perbedaan pandangan di kalangan analis sepak bola Italia.
Mantan bek AC Milan, Alessandro Costacurta, menilai standar penilaian terhadap handball tampaknya telah mengalami perubahan dalam beberapa pekan terakhir.
Menurutnya, pada masa sebelumnya situasi seperti ini kemungkinan besar akan dianggap sebagai pelanggaran.
Namun Costacurta justru mengaku menyukai perubahan tersebut. Ia menilai kejadian seperti yang dialami Ricci sebenarnya tidak seharusnya selalu dihukum penalti.
Selain membahas insiden tersebut, Costacurta juga mengkritik performa Inter yang menurutnya terkadang memasuki pertandingan tanpa mentalitas yang tepat.
Pendapat berbeda disampaikan oleh mantan kapten Inter, Giuseppe Bergomi. Ia menilai keputusan tersebut patut dipertanyakan.
Bergomi mengatakan bahwa ia pernah melihat penalti diberikan untuk insiden yang bahkan tidak sejelas kejadian tersebut.
Menurutnya, mungkin saja wasit tidak melihat kejadian secara jelas karena jarak pemain yang sangat dekat. Namun dalam kondisi seperti itu, VAR seharusnya melakukan intervensi untuk meninjau ulang situasi.
Sementara itu, pakar perwasitan Luca Marelli justru mendukung keputusan wasit.
Dalam analisisnya di studio DAZN, Marelli menjelaskan bahwa kontak bola dengan tangan Ricci tidak bisa dianggap sebagai pelanggaran karena gerakan lengannya dinilai bertujuan menutup ruang, bukan menciptakan penghalang yang tidak wajar.
Ia menambahkan bahwa tim wasit kemungkinan besar sudah mempertimbangkan dinamika kejadian sebelum memutuskan untuk tidak memberikan penalti.
Beberapa pemain Inter juga memberikan komentar terkait insiden tersebut setelah pertandingan.
Bek Federico Dimarco mengaku tidak melihat kejadian itu secara langsung saat pertandingan berlangsung. Namun setelah melihat tayangan ulang, ia menilai posisi lengan Ricci tampak cukup terbuka.
Dimarco menyebut bahwa semuanya kembali pada interpretasi wasit, meskipun ia merasa VAR setidaknya bisa melakukan peninjauan ulang terhadap kejadian tersebut.
Berbeda dengan pemainnya, pelatih Inter Cristian Chivu memilih tidak memperdebatkan keputusan tersebut.
Ia mengatakan bahwa sudah ada VAR dan AVAR yang memeriksa situasi itu, sehingga dirinya tidak memiliki komentar tambahan mengenai keputusan wasit.
Di Canio Soroti Mentalitas Inter
Mantan penyerang Italia, Paolo Di Canio, justru melihat persoalan lain di balik kontroversi tersebut.
Menurutnya, Inter terlihat bermain dengan ketegangan dan rasa takut melakukan kesalahan. Hal itu menunjukkan adanya tekanan psikologis dalam tim.
Di Canio bahkan menilai ada semacam reaksi psikologis tertentu ketika Inter menghadapi Milan, yang membuat permainan mereka terlihat tidak lepas.
Mengapa Insiden Ini Terus Diperdebatkan?
Perdebatan mengenai kejadian tersebut terutama muncul karena interpretasi terhadap aturan handball.
Sebagian pihak menilai posisi tangan Ricci yang menjauh dari tubuh membuat siluet pemain menjadi lebih besar, sehingga seharusnya dianggap pelanggaran.
Namun pihak lain berpendapat bahwa gerakan tangan Ricci masih tergolong alami karena dilakukan untuk menutup ruang, bukan dengan sengaja menghalangi bola.
Karena VAR tidak menilai keputusan wasit sebagai kesalahan yang jelas dan nyata, keputusan Daniele Doveri untuk tidak memberikan penalti akhirnya tetap berlaku.
Akibatnya, insiden handball Ricci menjadi salah satu momen perwasitan paling kontroversial pada pekan tersebut dan kemungkinan masih akan terus diperdebatkan oleh pengamat maupun penggemar sepak bola dalam waktu yang lama.