Juventus dan Inter Milan kembali bersiap bertemu dalam Derby d’Italia akhir pekan ini. Namun jelang laga klasik Serie A tersebut, muncul perbandingan mencolok terkait performa kedua klub dalam lima musim terakhir. Meski mengeluarkan dana jauh lebih besar, Juventus justru tertinggal cukup jauh dari rival abadinya itu.
Laporan Corriere dello Sport yang dikutip FCInterNews menyebutkan Juventus telah membelanjakan sekitar 328 juta euro lebih banyak dibanding Inter Milan dalam lima tahun terakhir. Jika dikonversi ke rupiah, selisih itu setara kurang lebih Rp5,6 triliun. Angka tersebut belum mampu mengangkat performa Bianconeri menyamai pencapaian Nerazzurri. Parah!
Sebaliknya, Inter menunjukkan efisiensi yang kontras. Klub asal Milan itu justru membukukan neraca positif sekitar 72 juta euro atau sekitar Rp1,2 triliun dalam periode yang sama. Strategi mereka lebih banyak bertumpu pada perekrutan pemain bebas transfer dengan profil mentereng, sebuah pendekatan yang terbukti efektif.
Selisih Belanja, Selisih Prestasi
Pengeluaran besar Juventus tidak sepenuhnya menghasilkan dampak kompetitif yang diharapkan. Selain selisih belanja yang signifikan, klub asal Turin itu juga mencatat defisit sekitar 256 juta euro atau sekitar Rp4,3 triliun. Kerugian tersebut dipengaruhi oleh beberapa pergantian pelatih serta investasi pemain yang tidak berjalan sesuai rencana.
Dalam rentang lima musim tersebut, Inter berhasil mengumpulkan 60 poin lebih banyak dibanding Juventus di ajang Liga Italia. Selisih itu menjadi gambaran nyata perbedaan stabilitas dan efektivitas manajemen kedua klub.
Peran Beppe Marotta sebagai pengambil keputusan transfer juga menjadi faktor penting. Rekrutmen yang tepat sasaran membuat Inter tetap kompetitif tanpa harus mengeluarkan dana sebesar rivalnya.
Inter Datang dengan Kepercayaan Diri
Saat ini Inter memimpin klasemen dengan keunggulan delapan poin atas AC Milan di posisi kedua. Kondisi itu membuat mereka menatap Derby d’Italia dengan rasa percaya diri tinggi.
Meski begitu, Inter belum mencatat kemenangan dalam laga-laga besar liga musim ini. Fakta tersebut menjadi catatan tersendiri jelang pertemuan melawan Juventus. Namun dengan momentum yang dimiliki dan konsistensi yang lebih terjaga dalam beberapa tahun terakhir, Inter dinilai berada dalam posisi yang lebih stabil menghadapi duel akhir pekan nanti.
Derby d’Italia kali ini bukan sekadar soal gengsi, tetapi juga menjadi refleksi dua pendekatan berbeda dalam membangun tim. Data lima musim terakhir menunjukkan bahwa besarnya investasi tidak selalu berbanding lurus dengan hasil di lapangan.