Dalam duel melawan wakil Prancis tersebut, tim asal Merseyside kesulitan mengembangkan permainan. Mereka hanya mencatatkan 24 persen penguasaan bola serta kalah jauh dalam jumlah tembakan, yakni 3 berbanding 18. Melihat dominasi lini depan lawan, Slot memilih untuk memperkuat sektor pertahanan meski akhirnya tetap kebobolan dua gol.
Fokus Bertahan Jadi Alasan Utama
Setelah pertandingan, pelatih asal Belanda itu menjelaskan bahwa jalannya laga tidak mendukung untuk menurunkan Salah. Ia menilai situasi di lapangan lebih menuntut tim untuk bertahan daripada menyerang.
Menurutnya, memasukkan Salah dalam kondisi tersebut tidak akan efektif. Ia justru memilih menjaga kebugaran sang pemain untuk pertandingan berikutnya dibanding menguras energinya dalam laga yang tidak berjalan sesuai harapan.
“Saya rasa di fase akhir pertandingan, kami lebih fokus bertahan daripada memiliki peluang mencetak gol,” ujar Slot.
Ia juga menyinggung pengalaman musim sebelumnya ketika timnya mampu mencetak gol di menit akhir. Namun kali ini, situasi berbeda karena tim lebih banyak berada di area pertahanan sendiri.
“Selama sekitar 20 sampai 25 menit, kami hanya bertahan. Salah punya kualitas luar biasa, tetapi jika ia harus terus bertahan di dalam kotak penalti sendiri dalam waktu selama itu, lebih baik energinya disimpan untuk laga-laga berikutnya,” tambahnya.
Liverpool Bermain dalam Mode Bertahan
Slot mengakui bahwa timnya berada dalam situasi bertahan hampir sepanjang laga. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “mode bertahan”, baik dalam pertandingan ini maupun dalam fase kompetisi yang sedang dijalani.
BACA JUGA: Parkir Bus The Reds Gagal Total! PSG Bungkam Liverpool 2-0 di Parc des Princes
Ia juga menegaskan bahwa kualitas lawan membuat timnya kesulitan untuk mengembangkan permainan.
“Tim lawan memang tampil lebih baik, tetapi kami tidak menyerah. Itulah mengapa kami masih memiliki peluang karena mereka gagal memaksimalkan beberapa peluang terbuka,” jelas Slot.
Ia menambahkan bahwa timnya masih memiliki kesempatan pada leg berikutnya yang akan dimainkan di kandang.
Namun sebelum itu, mereka harus lebih dulu menghadapi pertandingan penting melawan Fulham.
Van Dijk Akui Kekalahan, Tapi Tetap Optimistis
Kapten tim, Virgil van Dijk, turut memberikan pandangannya usai pertandingan. Ia mengakui laga berjalan sulit, namun hasil tersebut tidak sepenuhnya mengejutkan.
“Pertandingan yang sangat berat, dan memang sudah kami perkirakan. Kami bertahan dengan banyak pemain di sekitar kotak penalti. Gol pertama mereka terjadi karena sedikit perubahan arah bola,” ujarnya.
Ia juga menilai timnya sempat memiliki peluang melalui serangan balik, meski tidak dimaksimalkan dengan baik.
“Saya tentu tidak senang dengan hasil ini, tetapi satu hal positif adalah kami masih memiliki satu pertandingan lagi pekan depan,” lanjutnya.
Van Dijk juga berharap dukungan suporter di kandang bisa menjadi faktor penting untuk membalikkan keadaan.
“Saya sudah mengalami banyak malam spesial di Anfield. Para suporter adalah kekuatan utama kami, dan kami berharap mereka kembali memberikan dukungan penuh,” tutupnya.
Opini Redaksi
Keputusan Arne Slot memarkir Mohamed Salah dengan alasan “fokus bertahan” adalah pengakuan kekalahan taktik sebelum laga usai.
Sebagai manajer Liverpool, membiarkan pemain paling tajam di bangku cadangan saat tim tertinggal adalah tindakan pengecut yang membunuh mentalitas comeback tim. Alasan menjaga kebugaran untuk laga melawan Fulham sama sekali tidak masuk akal jika dibandingkan dengan pertaruhan harga diri di perempat final Liga Champions.
Statistik penguasaan bola yang hanya 24 persen menunjukkan bahwa Liverpool telah kehilangan identitas sebagai tim besar yang berani menyerang.
Mengandalkan “keajaiban Anfield” di leg kedua tanpa keberanian taktis di leg pertama hanyalah bentuk harapan kosong. Jika Slot terus menerapkan pola pikir medioker seperti ini, Liverpool bukan hanya akan tersingkir dari Eropa, tetapi juga kehilangan rasa hormat dari lawan-lawannya yang kini melihat mereka sebagai tim yang mudah didikte.