Meskipun berhasil menjuarai Piala FA dan memastikan tiket ke kompetisi Eropa musim lalu, periode musim panas mendatang berpotensi menjadi fase yang sangat menentukan bagi Crystal Palace dan sang pemilik klub, Steve Parish.
Pelatih saat ini, Oliver Glasner, sudah mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan Selhurst Park pada akhir musim. Kontrak pelatih asal Austria tersebut memang akan habis setelah dua setengah tahun memimpin klub.
Meski masa jabatannya akan segera berakhir, Glasner hampir pasti akan dikenang selamanya oleh para pendukung The Eagles berkat keberhasilan membawa klub meraih trofi FA Cup. Namun kini, manajemen klub harus memastikan mereka menemukan sosok pelatih yang tepat untuk membawa Palace melangkah ke fase berikutnya.
Kritik Glasner dan Aktivitas Transfer Palace
Salah satu alasan utama di balik keputusan Glasner untuk hengkang adalah kritik terbukanya terhadap manajemen klub. Ia beberapa kali menyuarakan ketidakpuasan atas keputusan menjual pemain-pemain kunci tanpa pengganti yang memadai.
Namun, pada bursa transfer Januari lalu, pihak klub akhirnya menunjukkan keseriusan mereka di pasar pemain dengan menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan sejumlah pemain baru.
Performa Kontras Brennan Johnson dan Jorgen Strand Larsen
Saat jendela transfer musim dingin dibuka, Palace langsung mengamankan tanda tangan winger Brennan Johnson dari Tottenham Hotspur dengan biaya sekitar £35 juta (sekitar Rp700 miliar).
Nilai transfer tersebut menjadi rekor klub saat itu, yang otomatis memunculkan ekspektasi besar terhadap pemain timnas Wales tersebut untuk memberikan kontribusi gol di lini depan Palace.
Namun kenyataannya, Johnson belum mampu memenuhi harapan tersebut. Pemain berusia 24 tahun itu gagal mencetak gol dalam sepuluh pertandingan liga pertamanya bersama The Eagles. Satu-satunya kontribusi signifikan yang ia berikan sejauh ini adalah satu assist saat Palace kalah 1-2 dari Manchester United di Old Trafford.
Di sisi lain, Palace kembali memecahkan rekor transfer mereka di jendela yang sama dengan merekrut striker Norwegia Jorgen Strand Larsen dengan biaya sekitar £44 juta (sekitar Rp880 miliar).
Penyerang yang sebelumnya bermain untuk Wolverhampton Wanderers itu langsung dipercaya menjadi ujung tombak tim asuhan Glasner. Hingga saat ini, Strand Larsen sudah mencatat tiga gol dan satu assist dalam tujuh penampilan awalnya, menunjukkan bahwa ia mulai memberikan dampak positif sejak kedatangannya pada Januari.
Adam Wharton Bersinar di Lini Tengah
Selain transfer mahal, Palace juga melakukan perekrutan cerdas di pasar pemain. Salah satunya adalah gelandang Adam Wharton, yang direkrut dengan biaya sekitar £20 juta (sekitar Rp400 miliar) pada Januari 2024.
Sejak saat itu, Wharton sudah mencatat 81 penampilan senior di semua kompetisi bersama Palace dan berkembang menjadi salah satu pemain paling penting dalam skuad.
Musim ini, gelandang berusia 22 tahun tersebut telah mencatat lima assist di Premier League, terbanyak di antara seluruh pemain Palace. Penampilan konsistennya bahkan membuatnya mendapatkan tempat di Timnas Inggris.
Berkat performa impresifnya, Wharton kini mulai dikaitkan dengan sejumlah klub besar yang siap mengajukan tawaran bernilai tinggi.
Yeremy Pino Jadi Pemain Termahal Crystal Palace
Meski Wharton tampil gemilang, ia ternyata bukan pemain dengan nilai pasar tertinggi di skuad Palace saat ini. Posisi tersebut justru ditempati oleh penyerang asal Spanyol Yeremy Pino.
Pino bergabung dari Villarreal CF pada musim panas lalu dengan biaya sekitar £20 juta (sekitar Rp400 miliar). Sejak bergabung, pemain berusia 23 tahun itu berhasil mengamankan tempat di starting XI dalam beberapa bulan terakhir.
Ia telah tampil 26 kali di Premier League musim ini dan mencatat tiga kontribusi gol di kompetisi tersebut. Selain itu, ia juga menyumbang enam kontribusi gol di kompetisi lain, termasuk di UEFA Europa Conference League, membantu Palace melaju hingga babak 16 besar.
Statistik performa Pino di liga juga memperlihatkan kualitasnya. Ia menciptakan 2,1 peluang per 90 menit, dengan 0,5 di antaranya merupakan peluang besar, yang menempatkannya di 7% pemain terbaik di Premier League dalam kategori tersebut.
Selain itu, ia juga mencatat 43% keberhasilan dribel dan 1,9 tembakan per pertandingan, menunjukkan kontribusinya yang konsisten di lini serang.
Menurut CIES Football Observatory, nilai pasar Pino kini mencapai sekitar £61 juta (sekitar Rp1,2 triliun) — tiga kali lipat dari harga yang dibayar Palace saat merekrutnya.
Menariknya, nilai tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan Strand Larsen yang saat ini ditaksir hanya sekitar £41 juta (sekitar Rp820 miliar) meskipun Palace baru saja mengeluarkan £44 juta untuk mendatangkannya pada Januari.
Lonjakan nilai pasar Pino menjadi bukti keberhasilan Palace dalam menjalankan strategi transfer mereka. Jika performanya terus meningkat, bukan tidak mungkin ia akan menjadi pemain berikutnya yang dijual dengan nilai fantastis oleh klub London Selatan tersebut.